LIPI: Masyarakat Indonesia Belum Suka Sosok Agresif
mesin kasir | Jul 09, 2009 | Comments 1

Sosok yang agresif belum begitu diterima oleh masyarakat kita, padahal belum tentu jelek
MESKI menyandang status incumbent, mengapa perolehan suara capres HM Jusuf Kalla (JK) jeblok pada pilpres kali ini? Mengapa dukungan sejumlah tokoh agama kepada JK tak mampu mendongkrak perolehan suaranya?
Ada beberapa faktor untuk menjawab pertanyaan ini. Berikut analisis peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI, Syamsuddin Haris dan pengamat politik Universitas Indonesia (UI) Maswadi Rauf.
Yang paling menonjol, kata Syamsuddin, JK terlambat memproklamasikan diri maju sebagai capres. Seharusnya, sejak awal JK berani mengumumkan diri sebagai capres. Gaung JK muncul ke publik sebagai capres juga baru dirasakan setelah pemilu legislatif.
“Jadi kalau dihitung, baru beberapa bulan saja. Bandingkan dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang sejak beberapa tahun terakhir,” ujarnya.
Selain itu, katanya, ketua umum Partai Golkar itu juga terlalu dini menampilkan diri sebagai sosok agresif dan kritis dalam konteks demokrasi di Indonesia. Juga disadari bahwa pemilihan presiden memiliki karakter berbeda dengan pemilu legislatif.
“Kalau dulu, pemilu 1955, misalnya, memang masih terpaku pada garis ideologi. Sekarang, lebih pada ketokohan. Ditambah lagi, sekarang mesin politik Golkar tidak bekerja efektif memperjuangkan JK sebagai presiden,” nilainya.
Padahal, sebenarnya JK memiliki potensi pendukung luar biasa. Di antaranya kedekatan dengan ulama yang memiliki basis massa. Mengacu hasil pemilu legislatif, pemilih Golkar juga merata di seluruh tanah air yang menang di 14 provinsi.
Di tataran pemikiran pemilih, ungkap Syamsuddin, telanjur terbentuk keberhasilan pemerintahan SBY. Di antaranya dua kali penurunan harga BBM, stabilitas keamanan dan pemberantasan korupsi yang merupakan kerja keras KPK. Meskipun bukan prestasi, semua itu sudah terbentuk di masyarakat.
Analisis berbeda diungkapkan pengamat politik Universitas Indonesia (UI) Maswadi Rauf. Dia menilai, pemilih di negara ini belum siap menerima tokoh agresif, kritis, dan bicara tanpa tedeng aling-aling seperti yang melekat pada sosok JK.
Saat ini, kata Maswadi, yang lebih disukai masyarakat adalah tokoh yang berbicara normatif dan menjaga citra. “Yang disuka memang yang begitu,” ungkapnya.
JK, terang Maswadi, tak bisa menampilkan diri seperti yang ditampilkan SBY selama ini. “Tentu tidak bisa JK tampil seperti SBY. Karakternya memang lugas seperti itu,” nilainya.
Dia mengungkapkan, demokrasi Indonesia berbeda dengan di Barat yang sangat maju. Namun, Maswadi menyadari bahwa pikiran pemilih itu akan terus maju. “Saya memprediksi, pada 2019 baru bisa menerima sosok seperti Pak JK,” terangnya.
Dia mengibaratkan demokrasi di Indonesia seperti debat capres sebelum pilpres. “Anda lihat bagaimana debat pertama. Setelah beberapa kali debat, baru berkualitas. Ibaratnya demokrasi seperti itu,” jelasnya.
Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan justru memandang perolehan suara JK dari perspektif lain.
Menurut dia, suara JK dalam pilpres kali ini justru meningkat. Sebab, survei terhadap tingkat keterpilihan JK hanya sekitar 2 persen. Sedangkan Megawati yang dulu hanya 19 persen kini juga meningkat. Tapi, kontribusi pertambahan suara diberikan oleh dukungan suara Prabowo Subianto.
Anies mengungkapkan, keterpilihan SBY saat ini diibaratkan membeli motor baru. “Sekarang begini, kalau motor lama masih baik, tidak rewel, apakah akan membeli motor baru? terangnya. Tingkat kepuasan masyarakat terhadap SBY juga masih tinggi.
JK, kata Anies, selama ini hanya populer di masyarakat perkotaan. Pemilih di tingkat bawah condong memilih ke SBY. Selain itu, JK juga dinilai tidak menawarkan perbedaan menonjol bila dibandingkan SBY.
Untuk Megawati, Anies memberikan analisis menarik.
Pemilih Megawati dinilai sangat tidak pede untuk memilihnya. Ini terlihat dari exit poll yang cukup rendah, sementara hasil quick count tinggi. “Ini berarti pemilih itu tidak pede saat memilih Mega,” ungkapnya. (git/jpnn)
Berita Terkait :
Popularity: 1% [?]
Filed Under: Ruang Berita Politik
Tags: artikel • berita terbaru • berita terkini • cawapres • jk • opini • pemilu • pilpres • politik • sby
About the Author:











Ini bukan akhir Perjuangan… Ini baru awal…
Inget janji waktu kampanye…. watching mode on:
http://ekojuli.wordpress.com/2009/07/09/saatnya-rakyat-menagih-15-janji-presiden-terpilih/