Borneo Adventure
Barcode Scanner

Hari Gini, Umroh Dengan Uang Dari Gayus! Apa Kata Akhirat?

Seperti diberitakan kemarin, hakim yang menangani kasus Markus Pajak Gayus Tambunan yaitu Muktadi Asnun mengatakan bahwa  uang Rp 50 Juta yang diberikan Gayus padanya diperuntukan untuk melakukan ibadah umroh. “Asnun bilang, kata Gayus itu untuk sangu (bekal) Umroh,” kata Koordinator Bidang Pengawasan Kehormatan Hakim Komisi Yudisial, Zainal Arifin (Detik.com)
Gayus Tambunan
Masih dari pemberitaan kemarin yang dikutip ruanghati.com dari detik menyebutkan,  hakim Asnun menunaikan ibadah Umroh sesudah Gayus divonis bebas. “Saya kurang mengerti kapan persisnya dia umroh. Tetapi sesudah vonis Gayus. Dia telah beli tiket Umroh sebesar Rp 75 juta. Uang Rp 50 juta dari Gayus untuk sangu,” ujar Zainal.

Zainal tidak tahu pasti, apakah Asnun pergi Umroh bersama keluarga atau yang lainnya. “Saya nggak tahu dia pergi sama siapa,” ujar Zainal.Dikatakan Zainal, KY juga siap mendalami jika ada bukti-bukti Asnun menerima uang lebih dari Rp 50 juta. “Kita siap dalami lagi,” kata Zainal.  Saat diperiksa KY, lanjut Zainal, Asnun mengaku khilaf, menyesal dan mohon maaf.  Sebuah ucapan klasik yang kerap diucapkan tanpa beban oleh pelaku koruptor

Dari kenyataan tersebut, susah untuk dimengerti dan difahami, apa sebenarnya tujuan ibadah seseorang yang secara sadar mengerti bahwa bekal untuk ibadahnya adalah diperoleh dari uang yang jelas haram.  Memang bukan hak dan wewenang kita untuk memvonis nilai ibadah seseorang. Namun paling tidak marilah kita mencoba belajar memahami perintah ibadah yang Tuhan berikan pada kita bukanlah hanya ibadah vertikal, namun juga horisontal (Hablum Minannas)

Bukankan uang negara adalah uang rakyat banyak yang harus dikembalikan pada rakyat untuk kesejahteraan rakyat, bukan digunakan untuk kepentingan orang per orang setinggi apapun jabatan yang ia pegang, apalagi kalau ada kompensasi balik yang diberikan pada sipemberi dengan imbal balik hukum yang harusnya tegak jadi roboh.

Kapankah kita mulai bisa memahami hakekat sebenarnya dari ibadah yang tentunya bukan hanya ritual belaka, namun juga ritual yang dimaksudkan berimplikasi pada sosial. Bukankah kita adalah khalifah (utusan) Tuhan di bumi ini agar membawa kemaslahatan kepada apapun yang ada di bumi.

Semulia apapun niat kita beribadah, bila itu kita kotori dengan unsur unsur haram yang nyata yang sudah diatur agama, sama artinya dengan ketika kita membersihkan lantai dengan kain lap yang kotor, lalu tercapaikan tujuan lantai bersih bila demikian? Semoga kita semua dihindarkan dari kebutaan mata hati dalam melihat kebenaran dan hidayah yang jelas dimuka mata kita.

Artikel Menarik Lain:

Filed Under: Ruang Berita TerkiniRuang Hatiku

Toko Barcode

Comment using your Facebook