Borneo Adventure
Barcode Scanner

Bromo Meletus, Tak Ada Wedhus Gembel Hanya Asap Belerang

Gunung Bromo di Jawa Timur meletus pada pukul 17.40 WIB, Jumat 26 November 2010. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menyatakan masyarakat di lereng Gunung Bromo masih aman dan belum perlu mengungsi. Setelah berstatus awas pada 23 November lalu, Pusat Vulkanologi mengeluarkan zona steril kegiatan manusia dalam radius 3 kilometer dari puncak gunung. “Pemukiman masih lebih dari 3 kilometer,” kata petugas pengamatan di pos pantau di Desa Ngadisari, Sikapura, Probolinggo, Ahmad Subhan. “Jadi masih aman.”

Gunung Bromo beberapa saat sebelum meletus, terlihat aktifitas vulkanik yang lebih aktif dari biasanya

Gunung Bromo beberapa saat sebelum meletus, terlihat aktifitas vulkanik yang lebih aktif dari biasanya

Zona steril Gunung Bromo antara lain kawasan wisata lautan pasir Bromo yang letaknya hanya sekitar 1,5 kilometer dari kawah. Sebelum meletus, gempa tremor semakin rapat dengan amplitudo sekitar 15 milimeter. Karena tremor membesar, gempa vulkanik sudah tidak terekam. “Sebelum meletus, gempa tremor semakin rapat dengan amplitudo sekitar 15 milimeter. Karena tremor membesar, gempa vulkanik sudah tidak terekam,” tutur Ketua Tim Tanggap Darurat Gunung Bromo Gde Suantika.

Letusan ini hanya berkisar di kawah Gunung Bromo. Karenanya, warga belum perlu dievakuasi. Menurut Gde, letusan ini mungkin diikuti letusan lain yang lebih besar. Dosen Pascasarjana Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, dan peneliti di Pusat Studi Kebumian dan Bencana, Dr Putu Artama, mengatakan bahwa karakteristik Bromo dengan Merapi berbeda. “Jika terjadi letusan, material yang dimuntahkan hanya pasir dan abu dengan kisaran radius 6 sampai 10 kilometer,” kata Putu.

Itu berbeda dengan material yang dimuntahkan Gunung Merapi yakni berupa lava pijar,bebatuan, dan juga awan panas ‘wedhus gembel‘. Selain itu, Bromo juga terbentengi oleh lautan pasir. Topografi Gunung ini bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi. “Yang membayakan itu semburan awan berwarna kekuningan. Kandungan belerang yang banyak sangat berbahaya jika dihirup manusia,” ujar Putu.
(Sumber 1) (Sumber2)

Artikel Menarik Lain:

Filed Under: Featured

Toko Barcode

Comment using your Facebook