Borneo Adventure
Barcode Scanner

Akibat Panik Ada Yang Teriak “Tsunami” 2 Warga Aceh Tewas

Fenomena alam gelombang besar yang terjadi di pesisir Aceh sejak Kamis (17/3/2011) malam hingga Jumat (18/3/2011) memunculkan kepanikan luar biasa. Teriakan tsunami ini merenggut dua nyawa warga Aceh. Warga yang panik lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Hingga akhirnya dua orang meninggal. Satu orang di Samalanga meninggal karena jantungan dan seorang lainnya di Kembang Tanjong, Pidie disebabkan darah tinggi.

Trauma kejadian Tsunami diwaktu lalu membuat sindrom tsunami berkepanjangan

Trauma kejadian Tsunami diwaktu lalu membuat sindrom tsunami berkepanjangan

Korban meninggal itu tercatat masing-masing bernama Manaip (58), penduduk Gampong Meraksa, Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie dan seorang lainnya bernama Nurhayati (48), warga Desa Sangso, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen. Fenomena gelombang pasang kali ini memunculkan kepanikan luar biasa karena munculnya teriakan dan kabar akan terjadi tsunami. Tidak sedikit yang mengalami luka-luka karena terjatuh saat melarikan diri.

Gelombang besar di pesisir Bireuen melanda kawasan Samalanga, Simpang Mamplam, Pandrah, Jeunieb, dan Plimbang sekitar pukul 09.50 WIB, Jumat (18/3/2011). Saat gelombang bergemuruh terdengar teriakan tsunami menyebabkan ribuan warga, termasuk anak-anak yang sedang mengikuti proses belajar mengajar di berbagai jenjang pendidikan berhamburan dan lari tunggang langgang menyelamatkan diri.

“Banyak siswa kami berlarian dan saling tabrakan,” kata Kepala MAN Jeunieb, M Gade. Pemegang Nota Dinas Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bireuen, Saifuddin. Selain ada yang meninggal, sejumlah warga lainnya luka-luka akibat terjatuh saat melarikan diri. Korban luka-luka yaitu Nurmasyitah (13) siswa kelas I SMPN Tanjongan Samalanga, Ansar (17) siswa SMA 1 Samalanga bersama ibunya, Sri Mada (45) guru SMA Samalanga, Muyasir (15) siswa SMPN 2 Jeunieb/warga Tanjong Bungong, dan Muhammad Ali Arbi (55) warga Desa Tanjong Bungong, Jeunieb. Korban dirawat di Puskesmas Samalanga dan Puskesmas Jeunieb.

Seorang tokoh muda Samalanga, Muzakkir didampingi ibu-ibu dari Desa Pante Rheung mengatakan, akibat isu tsunami itu memunculkan kepanikan luar biasa. Masyarakat menjadi tak terkendali sehingga jatuh korban, bahkan ada yang meninggal akibat jantungan.

Kapolres Bireuen, AKBP HR Dadik J melalui Kapolsek Samalanga, Iptu Syamsul SH mengatakan, hasil pantauan lapangan, sebelum warga berlarian, ada dua pemuda yang mengendarai sepeda motor jenis RX King melaju dari arah Jangka Buya (Pidie Jaya) melewati Keude Samalanga. Kedua pemuda tersebut meneriaki air laut sedang naik dan tsunami segera terjadi. “Kedua pemuda itu tancap gas ke arah timur Kota Samalanga dan menyebarkan informasi serupa sehingga memunculkan panik massal,” kata Iptu Syamsul.

Panglima Laot Kabupaten Bireuen, Badruddin mengatakan, gelombang laut tinggi sekitar empat meter akhir-akhir ini dengan suara gemuruh adalah pasang purnama, bukan tsunami. “Kondisi ini akan terjadi selama beberapa hari ke depan. Gelombang seperti ini biasanya muncul lima tahun sekali, masyarakat tak perlu panik,” kata Badruddin. (Sumber)

Artikel Menarik Lain:

Filed Under: Featured

Toko Barcode

Comment using your Facebook