Borneo Adventure
Barcode Scanner

Beginilah Kondisi Korban Rokok, Leher Bolong dan Suara Seperti Robot

Kandungan yang terkandung di dalam rokok sangat ganas, karena mengandung racun yang dapat merusak sistem tubuh manusia. Salah satu bahayanya bisa menyebabkan kanker laring, tenggorokan dan esofagus yang akhirnya membuat leher  si pecandu menjadi berlubang.

Berikut adalah para mantan pecandu sekaligus korban rokok, yang lehernya bolong serta mengeluarkan suara seperti robot saat berbicara.

 

1. RE Lumbantobing

RE Lumbantobing (77 tahun) selalu memakai syal di balik kerah bajunya yang menutupi leher. Tapi ketika syalnya dibuka terlihat lubang menganga di leher yang untuk orang awam cukup mengerikan melihatnya. Itulah sebabnya saat ia bicara, syal itu kembang kempis karena di baliknya ada lubang di leher.

RE Lumbantobing adalah survivor atau mantan penderita kanker esofagus yang telah kehilangan organ-organ di leher termasuk tenggorokan dan pita suara, terkena efek negatif dari kebiasaan merokok.

Ketika berbicara, bunyi suaranya bukan keluar dari mulut namun bunyi suara dari leher yang ditutupi slayer yang seolah ada speaker di dalamnya. Suaranya juga tidak seperti orang normal pada umumnya, bunyi suara keduanya agak bergetar seperti suara robot atau alien di film-film fiksi ilmiah.

Begitu juga saat bernapas, syal itu bergerak-gerak seperti ada sesuatu yang tersembunyi di dalamnya. Lambaian syal yang bergerak akibat hembusan udara semakin jelas ketika kedua pria ini memperagakan kemampuannya untuk bernapas dengan hidung ditutup rapat. Rupanya hidung keduanya sudah tidak berfungsi sehingga proses bernapasnya lewat leher.

 

2. Edison Siahaan

Edison Siahaan (75 tahun) merokok sejak remaja sekitar usia 17 tahun. Ia termasuk perokok berat karena setidaknya 3 hingga 4 bungkus rokok ia hisap habis setiap hari. Sekitar 50 tahun ia menjadi pecandu rokok hingga akhirnya didiagnosis dokter menderita kanker laring (kotak suara) pada tahun 1995.

Kanker sebesar genggaman tangan bersarang di daerah lehernya, yang akhirnya harus dilakukan operasi pengangkatan pita suara. Operasi tersebut harus membuat Edison kehilangan pita suara yang berarti ia tak bisa bicara lagi.

Yang lebih mengerikan, terdapat lubang sebesar ibu jari di lehernya, persis seperti gambar lubang di leher yang mengeluarkan asap rokok, yang terdapat di bungkus-bungkus rokok Amerika.

Ketika berbicara, suara Edison terdengar hilang timbul, terang saja karena suara yang ia hasilkan berasal dari saluran makan esofagus yang ia latih agar bisa mengeluarkan suara.

 

3. Zainudin

Zainudin (41 tahun), seorang laki-laki bersuara seperti robot asal Bogor hidup tanpa pita suara sejak tahun 1996. Hanya tersisa lubang kecil di lehernya karena tenggorokannya sudah diangkat setahun setelah didiagnosis menderita kanker pita suara kurang lebih 18 tahun yang lalu.

Laki-laki ini bukan seorang perokok meski mengakui pada masa mudanya dulu pernah sekali dua kali mengisap rokok sekedar untuk bergaul. Namun yang jelas ia mengakui, sejak kecil ia tinggal serumah dengan keluarga besarnya yang hampir semuanya merupakan perokok berat sehingga ia sendiri termasuk perokok pasif.

Dampak dari asap rokok yang dihisapnya cukup berat, seperti yang dirasakannya saat ini. Pada tahun 1996 ia didiagnosis kanker pita suara, lalu setahun kemudian harus menjalani operasi pengangkatan pita suara serta jakun dan hampir seluruh organ yang ada di lehernya.

Hidungnya sama sekali sudah tidak berfungsi, sebab keluar masuknya udara pernapasan kini bisa langsung melalui lubang di lehernya. Lubang ini juga berfungsi sebagai pengasil bunyi-bunyian, meski suaranya sangat bergetar dan tak semerdu suara yang keluar dari pita suara.

 

4. Barbara Izzarelli

Barbara Izzarelli, yang berasal dari Norwich, Connecticut, harus rela kehilangan laring atau kotak suaranya 16 tahun yang lalu, setelah merokok selama 25 tahun. Mantan perokok ini harus bernapas melalui lubang di tenggorokannya setelah menderita kanker laring. Ia juga kehilangan fungsi indera penciumannya dan tak lagi bisa makan makanan padat.

“Saya tahu itu adalah bagian dari kesalahan saya karena memilih untuk merokok. Tapi mereka (perusahaan rokok) membuat produk yang berbahaya. Pada saat itu, ketika saya mulai merokok saya tidak tahu itu berbahaya. Ini benar-benar mengubah hidup ketika Anda sakit. Itu adalah penyesuaian yang sulit. Keluarga saya hancur ketika mereka melihat saya hanya berbaring kesakitan,” ujar Barbara.

 

5. Debi Austin

Debi Austin merupakan mantan pecandu rokok yang aktif memberikan kampanye di California tentang bahaya rokok. Ia telah meninggal Februari lalu di usia 62 tahun.

Austin pertama kali muncul di televisi pada tahun 1996, mengaku mulai merokok pada usia 13 tahun dan tidak pernah bisa berhenti. Akibatnya, organ-organ di tenggorokannya digerogoti kanker. Ia menjalani operasi di usia 42 tahun, yang membuat lehernya berlubang, atau disebut stoma, yang memungkinnya bernapas dan berbicara.

 

6. Richard Fox

Richard Fox adalah salah satu korban perokok pasif. Ibu, paman, teman-teman, dan rekan-rekan kerjanya semua adalah perokok. Fox sendiri tidak merokok, tetapi ia terkena kanker akibat asap rokok orang lain.

Fox menjalani dua kali operasi untuk kanker. Pertama untuk menghapus tenggorokannya, dan kedua enam tahun kemudian, untuk menghapus bagian dari paru-paru. Setelah menjalani operasi laryngectomy, leher Fox harus berlubang dan saat berbicara suaranya berasal dari lubang di leher tersebut. Kakaknya, Donald Fox, yang juga bukan perokok, meninggal pada usia 38 tahun akibat kanker pada lidah, rahang, dan leher.

 

7. Terrie

Terrie, wanita yang berasal dari Carolina Utara juga kehilangan kotak suaranya karena keganasan rokok. Lehernya berlubang setelah kanker menggerogoti organ-organ di tenggorokannya. Kini foto Terrie lengkap dengan lehernya yang bolong sering digunakan untuk iklan grafis pada kampanye kesehatan di Amerika Serikat.

 

Sobat ruanghati, kami tidak menakut – nakuti anda dalam mengkonsumsi rokok, namun ada baiknya jika anda menguranginya demi kesehatan anda.

Artikel Menarik Lain:

Filed Under: FeaturedRuang Berita Terkini

Tags:

Toko Barcode

Comment using your Facebook